Kamis, 25 November 2010

Punahnya Hutan Punahnya Anggrek

Anggrek merupakan tumbuhan yang aslinya hidup di hutan. Namun, bukan hal yang mudah mencegah kerusakan hutan di Indonesia. Dan kondisi saat ini yang terjadi, dari 820 jenis Anggrek asli Indonesia yang hidup di hutan pulau Sumatera – kini tinggal 400-an saja. Hingga, patut dipertanyakan upaya konservasi alam -yang nampaknya harapan semakin jauh dari kenyataan yang ada.
Kenapa?. Salah seorang peneliti senior dari Universitas leiden Belanda mengatakan, dalam tiga tahun mendatang jenis anggrek asli Sumatera diperkirakan akan punah dari habitatnya. Apalagi kalau kita melihat laporan World Bank, yang memperkirakan di tahun 2005 hutan di Sumatera akan punah. Padahal, anggrek asli itu aslinya tumbuh dan hidup dihutan. Jadi, bisa dibayangkan kalau hutannya sendiri hilang. Demikian penjelasan Dr. EF Ed de Vogel dari national Herbarium Netherland setelah selasai menjadi pembicara Ceramah Ilmiah Anggrek di kebun Raya Bogor, Bogor.
Seperti dijelaskannya kepada Republika , anggrek yang hilang itu berada di hutan dataran rendah. Mulai dari permukaan laut sampai dengan ketinggian 1.000 meter. Dan anggrek itu diantaranya berasal dari kelompok Paphiopedilum. Lebih lanjut dijelaskan, kejadian yang menimpa pulau Sumatera ini, khususnya di hutan Sumatera – merupakan sebuah peristiwa buruk bagi upaya konservasi anggrek di Indonesia. ‘Peristiwa di pulau Sumatera ini merupakan bad case’ bagi Indonesia. Hal ini dapat dimengerti karena pulau Sumatera merupakan peringkat ke tiga setelah Irian jaya dan kalimantan dalam menyumbang keanekaragaman anggrek di Indonesia.
Dijelaskan oleh Dr. Irawati, Kepala Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi LIPI bahwa pada tahun 1981, jumlah anggrek yang ada di Sumatera sekitar 820 jenis. Kini, tinggal 400-an saja.
Menurut Vogel, upaya rehabilitasi anggrek bukanlah hal yang mudah dilakukan. Perlu waktu setidaknya 25 tahun untuk dapat menumbuhkan anggrek yang ada di hutan. Tapi, kemungkinan ini sangat kecil untuk bisa mendapatkan anggrek yang sama seperti sebelumnya meskipun setelah 25 tahun.
Menurut Irawati, salah satu penyebab hilangnya anggrek adalah penjualan yang dilakukan secara ilegal. Terutama bagi anggrek yang bernilai ekonomis, seperti : anggrek bulan dan kantung. Umumnya anggrek-anggrek itu di jual ke Eropa dan Amerika Serikat yang diambil dari hutan-hutan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya.
Saat ini dari keluarga anggrek yang berada di dunia, sekitar 40% berda di kawasan Malesia dan Indonesia. Sedang 28% berada di kawasan Indoaustralia. Lebih lanjut dijelaskan, beberapa jenis anggrek endemik yang berasal dari keluarga utama ada di Indonesia. Diantaranya keluarga Paphiopedilum 84 jenis, phalaenopsis 81 jenis, paraphalaenopsis 4 jenis dan Cymbidum sebanyak 32 jenis.
Lagi, lagi Indonesia dihadapkan pada kondisi yang dilematis. Punahnya hutan di Indonesia menjadi punahnya pula tumbuhan dan hewan yang berada di sana. Dan, bila dibiarkan berlanjut- cerita indah tentang keanekaragaman kekayaan bangsa ini tinggal kenangan. Dan, siapapun diantara kita tak ingin hal itu berlanjut. Jadi, sadarilah Indonesiaku, untuk tidak diam terpaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar